Senin, 15 April 2013

MAKALAH STUDI KAWASAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN
Satu hal yang sangat menarik seperti apa yang digambarkan selama ini, yakni Islam memiliki karekteristik global, bisa diterima dalam setiap ruang dan waktu. Namun pada sisi yang lain, saat ia memasuki berbagai kawasan wilayah, karekteristik global seolah-olah hilang melebur ke dalam berbagai kekuatan lokal yang dimasukinya. Satu kecenderungan diman biasa Islam mengadaptasi terhadap kepentingan mereka. Persoalannya adalah apakah fenomena seperti ini bisa dipandang sebagai sebuahkeberhasilan Islam dalam menembus medan dakwah hingga bisa diterima dalam berbagai lapisan masyarakat lokal, sekalipun warna dan ciri keglobalannya sedikit pudar ? atau fenomena seperti ini justru sebagai sebuah reduksi terhadap universalitas Islam, di mana lokalisme mampu “menjinakkan” universalitas Islam sebagai satu kekuatab global.
Dalam hal ini Islam dipandang sebagai agama yang memiliki kesatuaan dalam keragamannya (unity in variety) dalam aspek-aspek teologi dan spritualnya, sementara lokalitas keragamannya berbeda dalam pola-pola penerapan dengan variasi kultural masing-masing.











BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN STUDI KAWASAN ISLAM
Secara Etimologi merupakan dari bahasa Arab Dirasah Islamiyah. Dalam kajian Islam di Barat disebut Islamic Studies secara harfiyah adalah kajian tentang hal-hal yang berkaitan dengan keislaman. Secara terminologis adalah kajian secara sistematis dan terpadu untuk mengetahui, memakai dan menganalisis secara mendalam hal-hal yang berkaitan dengan agama Islam, pokok-pokok ajaran Islam, sejarah Islam maupun realitas pelaksanaannya dalam kehidupan.[1]
Pengertian Studi Kawasan Islam adalah kajiaan yang tampaknya bisa menjelaskan bagaimana situasi sekarang ini terjadi, karena, fokus materi kajiannya tentang berbagai area mengenai kawasan dunia Islam dan lingkup pranata yang ada dicoba diurai didalamnya. Mulai dari pertumbuhan, perkembangan, serta ciri-ciri karekteristik sosial budaya yang ada didalamnya, termasuk  juga tentang faktor-faktor pendukung bagi munculnya berbagai ciri dan karakter serta pertumbuhan kebudayaan dimasing-masing dunia kawasan Islam. Dengan demikian,  secara formal objek studinya harus meliputi aspek-aspek geografis, demografis, historis, bahasa serta berbagai perkembangan sosial dan budaya, yang merupakan ciri-ciri umum dari keseluruhan perkembangan yang ada pada setiap kawasan budaya.[2]
B.     SEJARAH TENTANG STUDI KAWASAN
Dalam sejarahnya, persoalan hubungan antar batas-batas wilayah sebuah negara sebenarnya sudah sekian lama telah menjadi perhatian para ahli kegenaraan sejak jaman Yunani sekitar tahun 450-an SM. Ptolemy, Thucydidas, Hecataeus, dan Herodotus merupakan sejarawan Yunani yang cukup intens dengan kajian-kajian wilayah yang ia kenal, baik melalui cerita orang maupun dari hasil pengamatan terhadap wilayah-wilayah yang ia kunjungi. Mereka selain seorang sejarawan juga seorang pengelana.
1.300  tahun kemudian, Kaum Muslimin memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengembangkan studi kawasan ini dengan berbagai  corak yang ragam yang lebih dinamis lagi. Karya-karya mereka telah melampaui sejarawan Yunani, di mana pembahasannya bukan lagi berbicara tentang realits sejarah, tetapi lebih maju lagi yakni bagaimana cara-cara menanganinya. Munculnya berbagai karya sejarah  dengan tema-tema kajian wilayah dimulai dari awal penciptaan sampai mulai dihuni umat manusia, merupakan kajian-kajian yang sangat populer dan hampir bisa ditemukan dalam karya-karya sejarah klasik Islam. Sekalipun kajian geografi sebagai disiplin ilmu agak berbeda dengan sejarah, namun dikalangan sejarawan muslim hal ini tidak bisa dipisahkan begitu saja, karena objek pembahasan antara keduanya  saling melengkapi. Karena kajian sejarah, sangat membutuhkan kajian tentang ruang dan waktu sebagai aktivitas pelakunya. Oleh karena itu, karya-karya tentang geografi dan sejarah telah menjadi bagian penting dan tidak terpisahkan dari perkembangan historiografi Islam secara umum.
            Karya al-Baladzuri, Futuh al-Buldan wa Ahkamuha merupakan kajian sejarah yang sangat mementingkaan tinjauan wilayah Baladzuri wafat tahun 892 M, semasa hidupnya ia menjadi penasihat para Khalifan Abbasiyah, Al-Mutawakkil ‘Alallah dan Al-Musta’in Billah, bahkan ia mendidik Al-Mu’taz. Karya monumental ini merekam seluruh proses penaklukan dan bagaimana penanganan terhadap wilayah-wilayah baru kaum muslimin, seperti Syam, Irak, Mesir, Maroko, Armenia, serta wilayah-wilayah Persia lainnya. Secara metodologis dia tidak hanya mengandalalkan fakta tulis atau riwayat pengalaman pelaku, tetapi ia juga berhasil melihat dimana wilayah-wilayah yang dijelaskannya hampir seluruhnya sudah ia kunjungi.
Al-Ya’qubi seagai Pegawai di kekhalifahan Abbasiah dan diperkirakan meninggal tahun 292 H, telah menulis karya al-Buldan (jama’ dari balad; negara-negara) membicarakan bukan hanya cara-cara penaklukkan dan penanganan wilayah-wilayah Islam, tetapi juga berbaai potensi sumber daya alam dan ekonomi tiap-tiap wilayah ia gambarkan secara jelas. Sebagai penulis ia telah mengunjungi semananjung India, Arab, Syam, Palestina, Libya, Aljazair, dan Sebagainya. Ia mencari sumber-sumber otoritatif dalam aspek-aspek geografi wilayah-wilayah Islam. Sebagai seorang pengelana dan Sejarawan ia telah mengunjungi dan mengamati lebih dari 70 kota dan wilayah Islam baik di Afrika Utara, Asia maupun Spanyol.
Al-mas’udy, penulis Maruj al-Dzahab ini mengawali pengetahuaan tentang heografi dan sejarah dari hasil pengembaraan nya ke berbagai wilayah, bailk wilayah muslim maupun wilayah non muslim, ia banyak menerima berbagai informasi sehingga penjelasannya tentang keberadaan dan sejarah wilayah sangat kaya. Ia sangat menguasai adat istiadat dan pembangunan, pola kehidupan setiap masyarakat yang dikunjunginya, termasuk bahasa dan punya keakraban dengan tokoh lokal. Karya ini ditulis tauhun 947 M, ia meninggal tahun 956 M di Fusthath.
Al-Birruny, penulis kitab al-Hind merupakan sejarawan yang ahli dalam kajian wilayah India. Bukan hanya sebagai sejarawan tetapi ia juga ahli dalam penelitian dan observasi dalam ilmu-ilmu lainnya. Sebagai seoarang penasihat dinasti Ghaznawy, Sultan Mahmud Ghazna ia bekerja bukan hanya untuk kepentingan pemerintahan, tetapi juga menjelaskan secara objektif keberadaan wilayah, keagamaan, mentalitas penduduk, pemeikiran India dan bagaimana semestinya harus ditangani oleh para penguasa muslim. Kitab al-Hind ini ditulis tahun 1017 M.
Sebenarnya banyak sekali berbagai studi yang telah dilakukan oleh para sarjna muslim klasik dan pertengahan dan melihat berbagai kawasan dan kantong-kantong kaum muslimin di bebagai wilayahnya. Perhatian mereka terhadap potensi-potensi wilayah,  baik Desa, Kota maupun berbagai kegiatan kependudukannya, jelas membuktikan bahwa studi kawasan-kawasan Islam sepanjang sejarahnya selalu menarik perhatian. Sejarah wilayah seperti Halb, Mesir, dan sebagainya yang menjadi objek studi, telah ditulis Bughyat al-Thalib fi Tarikh al-Halab.
Begitu banyak orang mengkaji wilayah dengan berbagai variasinya, dan setiap periode menunjukkan trend yang berbeda-beda. Namun, dalam perkembangan sejarahnya, istilah geopolitik baru lahir sebagai istilah baru abad ke-19, sebagai bagian dari konsep “geo-strategy” bangsa Jerman yang dikembangkan oleh Otto van Bismarck, dengan “unification of the German States.” Teori ini pada akhirnya menjadi suatu bagian yang lebih luas lagi dari kajian Geografi secara umum. Tahuhn 1890 Alferd Thayer menulis tentang  “The Influence of Sea Power Upon History.” Rudolf Kjellen ahli geografi politik Swedia kemudian memunculkan istilah kekuatan wilayah (the power of area) di akhir abad ke-19. Tulisannya ini kemudian mengilhami Friedrich Ratzel seoranahli Ilmu alam, untuk merumuskan teori “geopolitik” secara utuh dalam bukunya “politische Georaphie” tahun 1879. Dalam teorinya ia menyatakan bahwa setiap negara selalu mengupayakan wilayah kesatuaanya dan membentenginya terhadap upaya-upaya negara lain untuk merebut tanah wilayah kekuasaannya. Oleh karena itu, semua negara (Nasionalisme) ingin hidup dalam wadah wilayah kesatuan bagi kehidupannya.[3]

C.     TIPOLOGI KAWASAN TIMUR TENGAH
Etnolinguistik Kawasan Arab
Kawasan Kebudayaan Islam Arab, bisa didefenisikan secara Linguistik dengan bahasa Arab sebagai bahasa induk kebudayaan mereka. Sekalipun sekarang mencakup dan meliputi di luar batas-batas geopoollitik tertentu etnik Arab, seperti Sudan, Somalia dan Mauritania yang seluruh penduduknya dapat disebut bukan orang Arab, tetapi secara linguistik mereka bisa masuk ke dalam kriteria Arab.
Pertama-tama kita bisa membedakan dengan jelas antara wilayah Arab Timur dan Arab Barat ,dengan menarik lokasi  garis padang pasir sejak wilayah Maroko, Lybia, Al-Jazair, Mesir,dan Syiria. Dari Syiria dapat dipisahkan lagi oleh garis gaya-linguistik ke selatan Saudi Arabia, yaknii Yaman dan Ke Utara Sampai Ke Irak.[4]
Di bagian Timur (masyriq), terutama Hijaz dan Najd sebagai tempat kelahiran Islam. Sampai saat ini masih berbentuk satu unit tersendiri dengan   suatu pola kebudayaan nomadik padang pasir, yang membentang sampai Yordania Selatan, Suria dan Irak. Sementara Itu, negara-negara Levant (Mediterenia Timur) Telah membentuk ciri-ciri lain yang telah disatuka oleh kesamaan-kesamaan geografis, pengalaman sejarah, terutama akibat dominasi Tuski Usmani, dan bahkan oleh bentuk-bentuk dialek Arab mereka yang hampir bisa dikatakan seragam. Sementara Mesir yang dalam banyak hal merupakan juga pusat kawasan Arab, adalah sangat khas dan berbeda dengan wilayah-wilayah Arab lain terutama dalam aspek fisionomi dan Anatomi dialek mereka. Seperti halnya dalam kebiasaan-kebiasaan dan dialek mereka. Seperti halnya dalam kebiasaan-kebiasaan dan moralitas yang mencerminkan masa lampau kuno, akibat sejarah panjang wilayah ini yang sanat dinaamis dengan berabagai karakter etnis terutama semasa kekuasaan Faraoh dan Romawi, kemudian menagalami islamisasi dan arabisasi total bahkan pengaruh Turki yang cukup lama ( Bani Thulun, Ikhsyid, dan Usmani)  telah memberrikan cerminan yang khas, baik dalam kebiasaan sehari-hari maupun aspek-aspek seni, sosial, dan budaya mereka.
Sementara itu, dunia Arab bagian Barat yang secara tradisional dikenal sebagai al-maghrib al-aqshaa,, membentang sejak dari Libya sampai ke Lautan Atlantik; Tlemcen dan Maroko termasuk sampai wilayah Spanyol sebelum ditingglkan oleh kaum muslimin. Sesuatu yang sudah lama sebagai wilayah tersendiri yang memiliki perbedaan corak dengan arab Timur. Spanyol dan Maroko memiliki ikatan kebudayaan yang sangat mendalam. Terutama Maroko dalam kenyataan sampai hari ini merupakan homogenitas yang telah dipaksakan oleh kesamaan sejarah yang panjang dalam lingkup Ahl Bait (keturunan Nabi Muhammad SAW), dinasti Idrisiyah.
Mereka juga melakukan interaksi yang berkesinambungan dengan unsur-unsur nomadik, termasuk sebauah campuran yang uni dengan penduduk Barbar. Mereka telah dicirikan oleh perkembangan oleh banyak aspek khususnya keseniaan Islam seperti : Arsitektu, Khaligrafi, Perkebunan, dll. Sampai puncak yang terkenal yang masih terus mereka pertahakan seperti cara-cara berpakaiaan kaum laki-laki yang mencerminkan sebuan model di zaman awal masyarakat Madinah. Bahkan masakan mereka yang kelihatan ekslusif dan mencerminkan seni hidangan telah mentradisi sejak lama di Adulusia dan di Marokko sendiri.
Oleh karena itu, bagi wilayah Islam Arab di mkan ia merupakan salah satu kawasan Islam tebesar kebudayaan dunia Islam, pada intinya orang dapat mendektesi pembagiaanya secara garis besar dengan  Islam Arab Timur dan Islam Arab barat. Kemudiaan dalam setiap wilayah tersebut dapat ditemui pula secara mikro wilayah-wilayah lokal. Dan keseluruhan wilayah ini dapat dipersatukan kembali diluar keragaman tersebut oleh penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa Ibunya.           

a.       Saudi Arabia

1.      Sejarah politik Saudi Arabia
Inti dunia Arab untuk studi kawasan yang satu ini, tentunya Saudi Arabia sebagai negara politik, karena memiliki sejarah panjang mulai dikenal sejak jaman Rasulullah SAW, dilanjutkan oleh Khulafaurrasidin pada tahun 634 M  dengan sistem kekhilafahan. Sejak tahun 660 M, dilanjutkan oleh dinasti amaiyah, dam memindakan  ibokota pemerintahannya ke damaskus Atau yang sekarang disebut dengan Syiria. Kemudian pada tahun 750 M pemerintahan Islam Abbasyiah menggantikan amawiyah dam memindahkan pusat pemerintahannya di baghdad.[5]
Meski sejak abad ke-16 (1512 M) secara formal Arab telah dikuasai turki Utsmaniyah, namun berbagai keamiran kecil tetap berkuasa. Inilah yang membuat wilayah tersebut terus bergolak hingga akhir Abad ke-19 M. Di antara banyak keamiran itu, amir Dinasti saud muncul sebagai kekuatan politik yang paling berpengaruh dan yang paling menonjol.  Mereka muncul sejak abad ke-18 sebagai kepala suku diwilayah hijaz, kekuasaannya berpusat di kota Dariyah. Pada tahun 1744, dinasti saud kian memperluas wiyah kekuasaannya, satu demi satu keamiran yang lemah ditaklukkannya.
2.      Batas-batas wilayah dan jumlah penduduk
Adapun batas-batas wilayah disebelah berbatasan dengan Irak dan Kuwait. Sebelah berbatasan dengan Yaman dan Oman. Sebelah Timur berbatasan dengan  Teluk Persia dan Qatar. Sebelah Barat dengan Yordania dan Laut Merah. Wilayah politiknya meliputi wilayah seluas 1,96 juta KM 2. Penduduknya berjumlah sekitar 21,5 juta, 90% etnik Arab, selebih nya Astro Asia.[6]
Meski Syariat Islam berlaku disana, namun dalam beberapa hal, sistem hukumnya juga mengenal perundang-undangan sekuler sebagai upaya untuk bisa menjembatani dalam hubungan dengan Dunia luar. Apalagi dalam kaitannya dengan hubungan dengan minyak dengan negara-negara Barat terutama Amerika Seriklat.
3.      Potensi dan Perkembangan Ekonomi 
Meski iklimnya kering dengan wilayah terbesar gurun pasir, namun pemerintahan Fahd berhasil membangun kemakmuran rakyatnya. Hal ini disebabkan adanya sumber minyak bumi yang meliputi 26 sumber cadangan minyak dunia. Minyak bumi menyumbang 75% pendapatan Saudi Arabia dan memberi konstribusi 90% dari totoal devisa sehingga ia termasuk negara yang tidak memiliki utang ke luar negri. Minyak bagi Sauidi juga merupakan alat politik, yang mengakibatkan Barat terus bergantung padanya. Saudi pernah akan mengancam akan memboikot produksinya minyaknya, akibat meletunya pertikaian Arab dan Israel yang didukung Amerika Serikat.
Selain minyak, negara Arab Saudi juga mendapatkan devisa dari pendapatah jumlah jama’ah haji dari seluruh penjuru dunia Islam serta dari komoditas pertaniaan seperti kurm, daging domba, dan susu yang biasa diusahakan oleh orng Arab badawi di sekitr oase-oase.
4.      Kondisi Sosial dan Budaya
Berkah minyak bumi inilah  yang telah mendorong modernisasi di Saudi sehingga angka melek huruf pun cukup tinggi, 62,8%. Sekalipun pada sisi lain  dampak modernisasi ini telah menimbulkan kesenjangan antara kehidupan penduduk kota dengan penduduk pedalama. Termasuk juga antara golongan muda dan kaum tua serta para ulama. Para wanita misalnya, meski diluar rumah selalu mengguanakan semacam pakaian jubah yang biasa disebut dengan “abha” namun didalam rumah mereka sudah terbiasa menggunakan pakaian produk-produk buatan Barat.
b.      Syiria

1.      Letak Geografi Syiria
Republik Syiria sekarang dibatasi oleh : Turki, Irak, Jordan, Israel, Lebanon, dan Laut Meditranian. Luas tanah nya mencapai 185,180 Km2  (71,498 ml2), wilayah ini merupakan lokasi persimpangan yang sangat strategis secara geopolitik, terutama dalam menghubungkan dunia Arab dengan Dunia Eropa melalui jalur laut Mideterania. Kekuatan militer Syiria memberikan andil yang sangat penting bagi wilayah-wilayah timur tengah melalui perbatasannya di medeteranian. Ia merupakan negara kesatuaan republik yang memilki potensi ekonomi yang cukup tinggi, sekalipun ia banyak melibatkan masalah politik di daerahnya.
2.      Pemerintahan Syiria
Sebagaimana yang dialami oleh negara-negara baru bentukan imperalisme Barat, konsep negara modern haruslah menunjukkan bahwa pemerintahan sebuah negara tidak boleh ditangani oleh penguasa mutlak, pemerintah harus mengakui kekuatan lain dalam bersama-sama mengurus negaranya. Dengan demikian, pada konstituante tahun 1973, pemerintahan Syiria pun dibagi menjadi tiga bagian : Eksekutif, Legeslati dan Yudikatif, sekalipun dalam praktikknya memang yang mempunyai kekuasaan tertinggi adalah presiden. Ia mempunyai wewenang penuh untuk mengangkat semua mentri sekaligus sebagai penguasa umum komando militer.
3.      Sosial dan budaya
Syiria sekarang adalah bagian dari negara-negara Arab Modern yang nama negaranya di ambil dari istilah negara kuno, yang dikenal sejak berabad-abad sebelum Masehi. Wilayah ini menunjukkan keeragaman warisan, tradisi kuno, dari mulai Romawi Bizantium, Mesir,Afrika, Aramik, dan Israel sampai Tradisi Arab Islam. Kesatuan ragam budaya mereka telah disatupadukan oleh proses arabisasi Islam ; Umayah I di Damaskus, dan dinasti kecil Hamdaniyah di Aleppo. Sekalipun pengaruh Turki Islam masa dinasti Turki Usmani cukup lama menguasai Syiria, Tetapi tampaknya tidak memberi bekas yang cukup dominan secara umum.
4.      Kondisi Geografis dan Potensi Ekonomi
Luas daratan dan kondisi wilayah di Syiria cukup memadai sebagai wilayah dan negara tersendiri, sekalipun banyak daerahnya terdiri dari gurun pasir yang relatif sempit. Rentetan bukit dan jarak gunungnya kira-kira sejajar dengan batas dataran pantai. Temperatu di sekitar dataran pantai, panas dan lembab, pada musim panas dan dingin lembab pada musim hujan.[7]
Sungai besar yang termasuk berasal dari Syiria : Euprat, Al-Khabur, dan Balikh mempunyai mata air di Turki, dan Orentes yang bersumber di Libanon. Hulu sungai-sungai ini terutama
Euprat, telah diprioritasikan untuk irigasi oleh perencanaan pemerintah Syira.
Tanah subur di daerah utara banyak dipadati penduduk, terutama sepanjang pantai dan di lembah-lembah sungai di mana banyak tumbuhan-tumbuhan alami, termasuk hutan pegunungan pohon pinus dan pohon oakasia, yang masih jauh dari aktivitas manusia. Marga satwa asli termasuk Rusa, Kijang, Tupai, Kucing hutan, Kelinci, dan Bermacam-macam Burung das sedilkit reftil gurun pasir. Sumber penghasilan tambang yang utama adalah fostat dam minyak bumi. Walaupun Syiria bukan penghasil minyak tanah utama, tetapi oleh standar petrolium Timur tengah Syiria menunjukkan mempunyai sedikit cadangan.
5.      Masyarakat dan Penduduk
Penduduk Syiria yang menggunakan bahasa Arab terdiri dari 85-90% dari populasi Syiria. 85% dari orang Syiria adalah Muslim mereka terbagai ke dalam beberapa sekte. Kira-kira 75% orang sunni daan yang lainnya Syiah; Islamiyh, Alawites, dan kelompok Druz (perpaduan ideologi Syi’ah , kwarij, komunis ).
Tersedianya banyak air sangat menentukan kehidupan penduduk kedpadatan penduduk yanjg semakin meningkat sepanjang daerah pesisir antara Latakia dan Tartus, di bagian tenggara terikat oleh hubungan dengan kota-kota Aleppo, Hamman, Homs, dan Damaskus. Disana juga terdapat sedikit komunitas pengembara badawi yang hidup di gurun pasir di wilayah selatan dan timur.



















BAB III
PENUTUP
Tujuan Studi Islam
Bagi umat Islam, mempelajari Islam mungkin untuk memantapkan keimanan dan mengamalkan ajaran Islam, sedangkan bagi non muslim hanya sekedar diskursus ilmiah, bahkan mungkin mencari kelemahan umat Islam dengan demikian tujuan studi Islam adalah sebagai berikut:
Pertama, untuk memahami dan mendalami serta membahas ajaran-ajaran Islam agar mereka dapat melaksanakan dan mengamalkan secara benar, serta menjadikannya sebagai pegangan dan pedoman hidup. Memahami dan mengkaji Islam direfleksikan dalam konteks pemaknaan yang sebenarnya bahwa Islam adalah agama yang mengarahkan pada pemeluknya sebagai hamba yang berdimensi teologis, humanis, dan keselamatan di dunia dan akhirat. Dengan studi Islam, diharapkan tujuan di atas dapat di tercapai.
Kedua, untuk menjadikan ajaran-ajaran Islam sebagai wacana ilmiah secara transparan yang dapat diterima oleh berbagai kalangan. Dalam hal ini, seluk beluk agama dan praktik-praktik keagamaan yang berlaku bagi umat Islam dijadikan dasar ilmu pengetahuan. Dengan kerangka ini, dimensi-dimensi Islam tidak hanya sekedar dogmentis, teologis. Tetapi ada aspek empirik sosiologis. Ajaran Islam yang diklain sebagai ajaran universal betul-betul mampu menjawab tantangan zaman, tidak sebagaimana diasumsikan sebagian orientalis yang berasumsi bahwa Islam adalah ajaran yang menghendaki ketidak majuan dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.






REFERENSI
ü  Ahmad Norma Permata, Metodologi Studi Agama, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 2000.
ü  Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, ( Jakarta : Logos)1999.
ü  Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Beberapa Aspek, (Jakarta: Bulan Bintang) ,1985.
ü  Mukti Ali, Metode Memahami Agama Islam, (Jakarta: Bulan Bintang), 1991.
ü  Azyumardi Azra,Studi Kawasan Dunia Islam, (Jakarta : Rajawali Pers ), 2009.
ü  Ajid Thohir, Perkiembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta : Rajawali Pers),2004.


[1] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Beberapa Aspek, (Jakarta: Bulan Bintang),hlm 33.
[2] Azyumardi Azra,Studi Kawasan Dunia Islam, (Jakarta : Rajawali Pers ), hlm.2.

[3] Ibid,hlm,46.
[4] Ajid Thohir, Perkiembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta : Rajawali Pers), hlm. 38-41.
[5] Azyumardi Azra,Op,Cit, hlm. 117.
[6] Mukti Ali, Metode Memahami Agama Islam, (Jakarta: Bulan Bintang),hlm.62.
[7] Ibid ,hlm.128.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar